Mohammad Alfiansyah

Mohammad Alfiansyah

Share

Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Mohammad Alfiansyah, New York, NY.

07/29/2026

Di pinggir jalan yang ramai, duduklah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Pakaiannya lusuh, kakinya tanpa alas, dan wajahnya dipenuhi air mata. Sejak pagi, perutnya belum terisi makanan. Namun, di pelukannya ada seekor anak kucing kecil yang setia menemaninya.
Alfiansyah mengelus kepala kucing itu dengan lembut sambil berbisik, "Tasbih... maaf ya, hari ini kita belum dapat makan."
Anak kucing itu tidak pergi. Ia tetap meringkuk di pelukan Alfiansyah, seolah mengerti kesedihan sahabat kecilnya. Walaupun mereka sama-sama lapar, mereka tidak pernah meninggalkan satu sama lain.
Setiap orang berlalu-lalang dengan kesibukannya. Ada yang melihat sekilas, ada yang terus berjalan. Di tengah keramaian itu, Alfiansyah hanya berharap ada seseorang yang berhenti, tersenyum, dan berkata, "Nak, ayo makan bersama."
Bagi Alfiansyah, harta yang paling berharga bukanlah uang atau mainan, melainkan seekor kucing kecil yang selalu menemaninya saat dunia terasa begitu sepi.
Semoga tidak ada lagi anak yang harus menahan lapar sendirian, dan semoga setiap kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi harapan bagi mereka yang sedang membutuhkan. ❀️

07/26/2026

Di sebuah lorong kecil yang sunyi, Alfiansyah melihat sebuah kotak usang di tepi jalan. Saat dihampiri, terdengar suara anak-anak kucing yang mengeong lemah. Tubuh mereka basah, menggigil, dan kelaparan. Mereka baru saja dibuang oleh orang yang pernah mereka anggap sebagai pemilik.
Alfiansyah yang masih kecil tidak sanggup berpaling. Dengan tangan mungilnya, dia mengusap kepala seekor anak kucing sambil berkata, "Jangan takut ya... sekarang kalian tidak sendirian lagi."
Dia membuka bekal makanannya sendiri. Walaupun perutnya juga lapar, dia memilih memberikan makanan itu kepada anak-anak kucing yang lebih membutuhkan. Air matanya jatuh satu demi satu ketika melihat mereka makan dengan lahap.
Sambil memeluk seekor anak kucing, Alfiansyah berdoa dengan suara yang lirih,
"Ya Allah... kalau aku belum mampu memberi mereka rumah yang indah, tolonglah Engkau kirimkan orang baik yang akan menyayangi mereka. Jangan biarkan mereka mati sendirian di jalan." 🀲
Orang-orang yang lewat hanya melihat sekilas, lalu pergi. Namun Alfiansyah tetap duduk menemani mereka hingga senja. Baginya, kasih sayang tidak diukur dari usia, tetapi dari hati yang mampu merasakan penderitaan makhluk lain.
Malam itu angin bertiup semakin dingin. Alfiansyah memeluk anak-anak kucing itu erat agar mereka tetap hangat. Air matanya terus mengalir, bukan kerana dirinya, tetapi kerana dia tidak sanggup melihat makhluk kecil yang tidak berdosa menderita.
Semoga setiap orang yang menyayangi dan memberi makan kucing yang kelaparan, Allah melapangkan rezekinya, menjaga keluarganya, mengangkat segala kesulitannya, dan membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin. πŸ€²πŸˆπŸ’–

07/23/2026

Di sebuah jalan yang ramai, hiduplah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Walaupun pakaiannya sederhana dan wajahnya penuh debu, hatinya begitu bersih dan penuh kasih sayang.
Setiap sore, Alfiansyah selalu menyisihkan sedikit makanan yang ia miliki. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kucing-kucing jalanan yang kelaparan. Satu per satu kucing itu datang menghampiri, seolah tahu bahwa ada seorang anak kecil yang tidak akan mengusir mereka.
Dengan tangan mungilnya, Alfiansyah membagikan makanan ke setiap piring kecil. Ia bahkan menggendong seekor anak kucing yang lemah sambil mengusap kepalanya dengan lembut. Meski perutnya sendiri belum tentu kenyang, ia tetap memilih berbagi.
Orang-orang yang melihatnya mulai terharu. Mereka sadar bahwa kebaikan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar hati untuk peduli kepada makhluk yang membutuhkan.
Hari itu, bukan hanya perut kucing-kucing jalanan yang terisi, tetapi juga hati banyak orang yang menyaksikan kebaikan Alfiansyah. Semoga kelak, setiap kebaikan yang ia tanam menjadi jalan menuju kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya. ❀️🐾

07/17/2026

Langit sore mulai gelap. Angin berembus pelan, tetapi tidak mampu mengeringkan air mata kecil yang terus mengalir di p**i Alfiansyah. Dengan pakaian lusuh dan kaki tanpa alas, ia memeluk erat kucing kesayangannya, Tasbih.
Di belakang mereka, pintu rumah kayu itu telah tertutup.
"Pergi! Kalian bukan tinggal di sini lagi!" suara itu masih terngiang di telinganya.
Alfiansyah tidak membalas. Ia hanya menundukkan kepala, lalu melangkah pergi sambil memeluk Tasbih sekuat tenaga.
Di tepi jalan yang sepi, ia berhenti. Air matanya jatuh membasahi bulu Tasbih.
Dengan suara yang bergetar ia berbisik,
"Tasbih... kita tinggal di mana lagi sekarang?"
Tasbih hanya mengeong pelan, lalu menggesekkan kepalanya ke p**i Alfiansyah, seolah ingin berkata, "Aku tetap bersamamu."
Alfiansyah memeluknya semakin erat.
"Aku tidak takut lapar... aku tidak takut kehujanan... tapi aku takut kalau suatu hari nanti kita harus berpisah."
Tak ada yang menjawab.
Hanya angin malam yang menemani langkah dua sahabat kecil itu.
Mereka berjalan tanpa tujuan, berharap ada tempat yang masih mau menerima mereka.
Di balik senyumnya yang dipaksa, Alfiansyah menyimpan doa sederhana.
"Ya Allah... kalau memang dunia ini sempit untuk kami, jangan biarkan aku kehilangan Tasbih. Dia bukan hanya seekor kucing... dia keluargaku, sahabatku, dan satu-satunya yang selalu menemaniku."
Malam semakin larut.
Langkah mereka semakin pelan.
Namun Alfiansyah tetap menggenggam Tasbih dengan penuh kasih, karena ia tahu...
Saat semua orang meninggalkannya, hanya Tasbih yang masih memilih untuk tetap tinggal di sisinya. πŸ˜­πŸ’”

07/13/2026

Air Mata Syukur Alfiansyah 😭🀲❀️
Alfiansyah tidak pernah menyangka hari itu akan menjadi hari yang begitu istimewa. Saat ia duduk di tepi jalan bersama kucing kesayangannya, satu per satu orang mulai datang menghampiri. Mereka membawa nasi, roti, susu, air minum, dan makanan untuk kucing.
Melihat begitu banyak orang yang peduli, mata Alfiansyah mulai berkaca-kaca. Air mata haru mengalir di p**inya. Dengan kedua tangan di dada, ia memberi salam dan mengucapkan, "Terima kasih, semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak, Ibu, Kakak, dan semuanya."
Di dalam hatinya, Alfiansyah berdoa,
"Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah mempertemukanku dengan orang-orang yang berhati mulia. Semoga Engkau melimpahkan rezeki mereka, menjaga kesehatan mereka, memudahkan segala urusan mereka, dan membalas setiap kebaikan mereka dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin." 🀲
Hari itu, Alfiansyah menyadari bahwa dunia masih dipenuhi orang-orang baik yang tidak ragu membantu sesama dan menyayangi makhluk hidup. Rasa syukurnya kepada Allah semakin besar, dan senyumnya kembali merekah meski air mata haru masih membasahi p**inya.
"Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan selalu menemukan jalannya untuk membawa kebahagiaan bagi orang lain." ❀️🐈🀲

07/10/2026

Di sebuah tepi jalan yang sederhana, duduklah seorang anak kecil bernama Alfiansyah bersama seekor kucing hitam putih yang setia menemaninya. Meski makanan yang dimiliki sangat sedikit, Alfiansyah lebih memilih berbagi dengan sahabat kecilnya yang kelaparan.
Sebelum makan, Alfiansyah mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan penuh harap.
"Ya Allah, cukupkan rezeki orang-orang yang berhati baik. Siapa pun yang hari ini memberi makan kami dan kucing kecil ini, semoga Engkau melapangkan rezekinya, menyehatkan tubuhnya, memudahkan segala urusannya, serta membalas setiap kebaikannya dengan keberkahan yang berlipat ganda. Aamiin." 🀲
Tak lama kemudian, orang-orang yang melihat ketulusan hati Alfiansyah mulai berdatangan. Ada yang membawa nasi, roti, susu, makanan untuk kucing, dan air minum. Mereka tersenyum, sementara Alfiansyah tak henti mengucapkan, "Terima kasih, semoga Allah membalas semua kebaikan kalian."
Hari itu, Alfiansyah belajar bahwa sekecil apa pun kebaikan yang diberikan kepada makhluk hidup, tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah. Senyum kecilnya dan perut kenyang kucing kesayangannya menjadi bukti bahwa kasih sayang mampu menggerakkan hati banyak orang.
"Siapa yang menyayangi makhluk di bumi, niscaya Allah akan menyayanginya dari langit." 🀲🐈❀️

07/08/2026

Malam itu begitu sunyi. Hanya cahaya lampu minyak yang menerangi sebuah pondok tua. Di atas kasur sederhana, Alfiansyah tertidur lelap sambil memeluk seekor anak kucing kecil yang selalu menemaninya.
Tidak ada pelukan seorang ibu yang menghangatkannya. Tidak ada ayah yang menyelimuti tubuhnya saat udara malam mulai dingin. Yang ada hanyalah seekor anak kucing yang selalu setia berada di sisinya.
Setiap hari Alfiansyah harus berjuang mencari makanan. Jika ia mendapatkan sepotong roti, ia akan membaginya menjadi dua. Setengah untuk dirinya, setengah lagi untuk anak kucing kesayangannya.
"Kalau aku lapar, kamu juga pasti lapar..." bisiknya sambil mengusap kepala kucing kecil itu.
Malam itu perut mereka sama-sama kosong. Alfiansyah hanya minum air putih agar rasa laparnya berkurang. Ia lalu memeluk anak kucing itu erat-erat agar tubuh mungilnya tetap hangat.
Sebelum tertidur, Alfiansyah berdoa dengan suara yang sangat pelan.
"Ya Allah... jangan biarkan temanku ini pergi. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalau boleh, biarkan dia tetap hidup menemaniku..."
Air matanya mengalir tanpa suara hingga membasahi bantal lusuh yang dipakainya.
Anak kucing itu hanya mengeong lirih, seolah mengerti kesedihan yang dipikul sahabat kecilnya.
Di dunia yang sering mengabaikan mereka, hanya mereka berdua yang saling menguatkan.
Tak ada yang tahu, di balik senyum kecil Alfiansyah, ada hati yang setiap hari menahan rasa sepi. Ia tidak pernah meminta mainan mahal, pakaian baru, ataupun rumah yang mewah.
Ia hanya berharap...
"Besok aku masih bisa bangun... dan temanku ini masih ada di sampingku."
Kadang, yang paling menyayat hati bukanlah kehilangan harta, melainkan ketika seorang anak kecil hanya memiliki seekor anak kucing sebagai satu-satunya tempat berbagi kasih sayang.
Semoga tidak ada lagi Alfiansyah lain yang harus tumbuh dalam kesepian seperti ini. πŸ€²πŸ˜­πŸ’”

07/07/2026

Di pinggir jalan yang penuh debu dan bising kendaraan, duduk seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Usianya masih sangat belia. Kakinya tanpa alas, pakaiannya sederhana, namun di balik wajah polosnya tersimpan beban hidup yang tak seharusnya dipikul seorang anak.
Hari itu, Alfiansyah hanya memiliki sebungkus makanan kecil. Perutnya sangat lapar sejak pagi. Namun ketika ia melihat seekor anak kucing kurus yang gemetar karena kelaparan, ia tidak tega membiarkannya.
Perlahan ia membuka bungkus makanan itu. Bukannya menghabiskan semuanya untuk dirinya sendiri, Alfiansyah justru menumpahkan makanan untuk kucing kecil itu.
Sambil memandangi kucing yang makan dengan lahap, Alfiansyah berbisik dengan suara lirih,
"Makanlah... aku masih kuat menahan lapar. Yang penting kamu jangan mati kelaparan." 😭
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia tetap tersenyum. Tidak ada ibu yang memeluknya, tidak ada ayah yang menggandeng tangannya. Yang menemaninya hanyalah seekor kucing kecil yang setia berada di sisinya.
Orang-orang terus berlalu tanpa menyadari bahwa di sudut jalan itu ada seorang anak berhati sangat besar. Anak yang rela mengorbankan makanannya sendiri demi makhluk kecil yang bahkan tidak bisa mengucapkan terima kasih.
Malam mulai turun. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Alfiansyah memeluk kucing itu erat sambil berharap esok akan ada kehidupan yang lebih baik.
Kadang, orang yang tidak memiliki apa-apa justru mampu memberikan segalanya. Dan Alfiansyah mengajarkan bahwa kekayaan terbesar bukanlah uang, melainkan hati yang penuh kasih. 😭❀️
"Semoga tidak ada lagi anak yang harus memilih antara mengisi perutnya sendiri atau memberi makan sahabat kecilnya." πŸ’”

07/02/2026

Di depan sebuah restoran yang ramai, tiga ekor kucing jalanan duduk diam. Mereka adalah Tasbih, Oyen, dan Bela. Sejak pagi, mereka belum menemukan seteguk air ataupun sebutir nasi. Perut mereka kosong, tetapi mereka tetap berharap ada seseorang yang mau melihat penderitaan mereka.
Orang-orang datang silih berganti. Mereka membawa makanan yang harum, tertawa bersama keluarga, lalu pergi begitu saja. Tak seorang pun berhenti untuk melihat tiga kucing yang kelaparan itu.
Tak lama kemudian, datanglah seorang anak kecil bernama Alfiansyah. Di tangannya hanya ada sebungkus nasi sederhana. Itu adalah makanan yang seharusnya ia makan sendiri.
Saat melihat Tasbih, Oyen, dan Bela yang lemas menahan lapar, Alfiansyah terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dengan tangan kecilnya, ia berlutut di depan mereka. Ia membuka bungkus nasi itu, lalu membaginya sedikit demi sedikit.
Tasbih memakan suapan pertama dengan sangat pelan. Oyen dan Bela ikut makan tanpa berebut, seolah mereka tahu bahwa makanan itu diberikan dengan penuh kasih sayang.
Alfiansyah hanya tersenyum, meski perutnya sendiri belum terisi.
Air matanya jatuh ketika melihat ketiga kucing itu akhirnya bisa makan.
Ia berbisik pelan,
"Tidak apa-apa kalau aku lapar hari ini... yang penting kalian tidak tidur dalam keadaan kelaparan lagi." πŸ˜­πŸ’”
Orang-orang yang melihat kejadian itu tiba-tiba terdiam. Mereka baru sadar bahwa seorang anak kecil memiliki hati yang jauh lebih besar daripada banyak orang dewasa.
Kadang, bukan orang yang memiliki banyak harta yang paling dermawan. Tetapi mereka yang rela berbagi, meski hanya memiliki sedikit.
πŸ˜­πŸ’” Semoga tidak ada lagi Tasbih, Oyen, dan Bela yang harus menunggu dengan perut kosong, dan semoga selalu ada hati sebaik Alfiansyah yang datang membawa harapan. 🐈❀️

06/29/2026

Di depan sebuah restoran yang dipenuhi tawa, suara gelas beradu, dan aroma makanan hangat, berdirilah seorang anak kecil bernama ALFIANSYAH. Di kedua lengannya, ia memeluk erat semua kucing kesayangannya. Baju putih yang dikenakannya mulai kusam, tetapi pelukannya tak pernah longgar.
Setiap kali pintu restoran terbuka, ALFIANSYAH menoleh dengan penuh harapan. Ia berharap ada seseorang yang melihatnya, tersenyum kepadanya, atau sekadar berkata, "Nak, kamu sudah makan?" Namun yang datang hanyalah tatapan singkat, lalu orang-orang kembali menikmati makan malam bersama keluarga mereka.
Kucing-kucing kecil itu menggesekkan kepala ke p**inya, seolah ingin menghapus kesedihan yang tak mampu mereka pahami. ALFIANSYAH hanya tersenyum tipis sambil berbisik, "Tenang ya... kalau aku lapar tidak apa-apa. Yang penting kalian tetap bersamaku."
Senja berganti malam. Lampu-lampu restoran semakin terang, tetapi harapan ALFIANSYAH semakin redup. Ia tidak menangis keras, karena ia tahu... tidak semua tangisan bisa terdengar di tengah ramainya dunia.
Malam itu, yang menghangatkan tubuhnya bukanlah makanan, melainkan pelukan kecil dari kucing-kucing yang tak pernah meninggalkannya. Mereka tidak bisa berbicara, tetapi kesetiaan mereka jauh lebih lantang daripada ribuan kata.
Betapa menyedihkannya ketika seorang anak merasa ditemani hanya oleh hewan yang ia sayangi, sementara begitu banyak manusia berlalu tanpa benar-benar melihatnya.
Semoga di dunia ini tidak ada lagi anak yang harus menunggu perhatian di tengah keramaian. Karena terkadang, satu sapaan, satu senyuman, atau satu uluran tangan yang tulus bisa menjadi alasan seseorang untuk kembali percaya bahwa dunia masih memiliki hati. πŸ˜­πŸ’”

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in New York?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Website

Address


New York, NY