Goresan Pena

Goresan Pena

Share

Hidup=Ibadah

06/10/2026

Jika tak mampu bersaing dengan orang-orang saleh dalam ibadahnya, maka jangan menyerah.

Bersainglah dengan orang-orang yang banyak dosa dalam taubat dan istighfarnya.

Sebab Allah tidak meminta kita menjadi manusia tanpa dosa.
Allah meminta kita kembali setiap kali terjatuh.

Jangan merasa terlalu kotor untuk menghadap Allah.
Jangan merasa dosamu terlalu banyak untuk diampuni.

Bisa jadi, orang yang hari ini sedang menangisi dosanya di hadapan Allah, justru lebih dekat kepada-Nya daripada orang yang merasa dirinya sudah baik.

Yang membedakan bukan siapa yang tak pernah jatuh,
tetapi siapa yang setiap kali jatuh, memilih untuk kembali.

Maka jika hari ini kita belum mampu memperbanyak amal seperti orang-orang saleh, setidaknya jangan kalah dalam mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

"Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya."

Karena terkadang, jalan p**ang kepada Allah tidak dimulai dengan amal yang besar.

Ia dimulai dengan satu istighfar yang benar-benar lahir dari hati.

06/10/2026

“Mungkin Musibah yang Kamu Benci, Justru Sedang Menuntunmu Pulang.”

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita bertanya kepada Allah:

"Ya Allah, mengapa harus aku?"

Mengapa rezeki tiba-tiba terasa sempit?
Mengapa usaha yang sudah diperjuangkan begitu lama justru berakhir dengan kegagalan?
Mengapa orang yang kita cintai pergi?
Mengapa doa yang berkali-kali dipanjatkan seolah belum menemukan jawaban?

Kita sering mengira bahwa pertolongan Allah selalu berarti Allah menghilangkan masalah kita.

Padahal Al-Qur'an mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Allah berfirman:

«مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ»

«“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”»

QS. At-Tagabun: 11

Perhatikan baik-baik.

Allah tidak mengatakan bahwa orang yang beriman tidak akan mengalami musibah.

Justru orang beriman pun akan diuji.

Tetapi Allah memberikan sesuatu yang lebih berharga:

يَهْدِ قَلْبَهُ — Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Betapa dalam ayat ini.

Terkadang kita meminta Allah mengubah keadaan, tetapi Allah justru terlebih dahulu mengubah hati kita.

Masalahnya belum selesai, tetapi hati menjadi lebih kuat.

Keadaan belum berubah, tetapi kita mulai mampu menerima.

Jalan belum terlihat, tetapi kita mulai percaya bahwa Allah tidak pernah kehilangan arah.

Air mata mungkin masih jatuh, tetapi hati tidak lagi memberontak kepada takdir.

Karena kita mulai memahami:

Tidak semua yang menyakitkan adalah keburukan.

Ada musibah yang datang untuk menghentikan langkah kita dari jalan yang salah.

Ada kehilangan yang membuat kita kembali bergantung kepada Allah.

Ada kegagalan yang menyelamatkan kita dari kesombongan.

Ada penundaan yang ternyata merupakan perlindungan.

Dan ada doa yang belum dikabulkan karena Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang belum mampu kita pahami hari ini.

Itulah mengapa setelah berbicara tentang musibah, Allah berfirman:

«وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ»

«“Taatilah Allah dan taatilah Rasul.”»

Kemudian Allah menutup rangkaian ayat itu dengan:

«وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ»

«“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.”»

Seakan-akan Allah sedang mengajarkan kepada kita:

Ketika musibah datang, jangan kehilangan arah.
Tetaplah taat.
Tetaplah berusaha.
Tetaplah berdoa.
Tetaplah berjalan.
Lalu serahkan apa yang tidak mampu kita kendalikan kepada Allah.

Sebab hidup ini tidak selalu tentang bagaimana kita mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kadang hidup adalah tentang bagaimana Allah mengajarkan kita menjadi manusia yang lebih dekat kepada-Nya melalui sesuatu yang tidak kita inginkan.

Maka ketika hari ini ada sesuatu yang sedang membuatmu menangis, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang meninggalkanmu.

Bisa jadi justru melalui air mata itu Allah sedang membersihkan hatimu.

Ketika jalanmu terasa tertutup, jangan buru-buru mengira bahwa masa depanmu telah berakhir.

Bisa jadi Allah sedang mengarahkanmu kepada jalan yang belum mampu engkau lihat.

Dan ketika sebuah musibah terasa begitu berat, ingatlah:

Allah tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan hidup tanpa ujian.

Tetapi Allah menjanjikan bahwa iman dapat menjadi jalan bagi hati untuk memperoleh petunjuk.

Mungkin pertolongan Allah bukan selalu berupa diangkatnya musibah.

Terkadang pertolongan Allah adalah diberikannya kekuatan untuk melewati musibah tanpa kehilangan iman.

Maka jangan hanya berdoa:

"Ya Allah, angkatlah masalahku."

Tetapi tambahkan:

"Ya Allah, jika masalah ini belum Engkau angkat, maka jangan Engkau biarkan hatiku jauh dari-Mu karenanya."

Sebab boleh jadi, di balik sesuatu yang kita sebut musibah, Allah sedang menyimpan rahmat yang belum kita pahami.

Dan di balik sesuatu yang kita anggap sebagai jalan buntu, Allah sedang menuntun hati kita menuju jalan p**ang kepada-Nya.

Barangkali bukan keadaan yang harus terlebih dahulu berubah.

Barangkali hati kitalah yang sedang Allah ajarkan untuk berubah.

Dan ketika hati telah menemukan Allah, bahkan di tengah badai sekalipun, seorang mukmin masih dapat menemukan ketenangan.

Karena yang membuat kita kuat bukan karena hidup selalu baik-baik saja, tetapi karena kita tahu kepada siapa kita berserah.

Allahumma ihdi qulubana… Ya Allah, berilah petunjuk kepada hati kami ketika kami menghadapi sesuatu yang tidak kami mengerti.

Jangan biarkan ujian menjauhkan kami dari-Mu. Jadikanlah setiap musibah sebagai jalan untuk semakin mengenal-Mu, semakin bersabar, semakin bertawakal, dan semakin dekat kepada-Mu.

Aamiin.

04/10/2026

Rakyatnya disuruh hemat, pejabatnya disuruh... menikmati fasilitas. 😂

Rakyat beli beras mikir dua kali.

Pejabat rapat soal kesejahteraan rakyat,
Ngopinya tiga, 4 kali.

Rakyat kalau gajinya kurang:
“Ya sudah, cari tambahan.”

Pejabat kalau bebannya bertambah:
“Perlu penyesuaian tunjangan.”

Wah...
ternyata kita sama-sama punya solusi.

Bedanya,
rakyat menyesuaikan gaya hidup,
pejabat menyesuaikan anggaran. 😂

Rakyat naik motor:
“Yang penting sampai.”

Pejabat naik mobil dinas:
“Yang penting sesuai protokol.”

Rakyat kalau makan di warung harus lihat harga.

Pejabat kalau makan dalam perjalanan dinas,
yang dilihat mungkin bukan harga...
tapi kuitansinya. 😄

Tapi jangan salah.

Ini bukan soal iri kepada pejabat.

Pejabat memang punya tanggung jawab besar.
Wajar kalau mendapat penghasilan yang layak.

Yang bikin rakyat bertanya adalah:

Apakah kesejahteraan orang yang mengurus negara harus selalu tumbuh lebih cepat daripada kesejahteraan orang yang membiayai negara?

Nah...

Di titik ini biasanya suara sendok mulai berhenti.

“Jangan-jangan masalah kita bukan negara tidak punya uang...
melainkan uang negara terlalu nyaman tinggal di tempat tertentu.”

☕

03/10/2026

SUARA YANG MENGUSIK PENGUASA, AKHIRNYA MENDAPAT UNDANGAN

Dulu, kalau penguasa salah sedikit saja, suaranya langsung keluar.

Kritik pedas.
Kebijakan dibongkar.
Janji ditagih.

Pokoknya, mikrofon seperti punya urusan pribadi dengan pemerintah.

Kita yang duduk di warung kopi pun ikut bangga.

“Ini baru orang. Berani melawan arus!”

Sampai suatu hari...

arusnya ternyata mengantar sebuah undangan.

Bukan undangan ngopi.

Bukan undangan kondangan.

Undangan masuk ke dalam kekuasaan.

Ada panggung.

Ada kursi.

Dan tentu saja, ada fasilitas untuk membuat kopi terasa sedikit lebih nikmat. 😄

Sejak saat itu, kita jadi penasaran.

Apakah suara kritisnya ikut masuk?

Atau jangan-jangan, yang masuk cuma orangnya, sementara kritiknya dititipkan di pos satpam?

Tenang.

Menerima jabatan bukan dosa.

Masuk pemerintahan juga bukan otomatis berarti menjual prinsip.

Bisa saja memang ingin memperbaiki dari dalam.

Tapi ada satu tes sederhana:

Beranikah ia mengkritik kekuasaan ketika kritik itu bisa membuat kursinya tidak nyaman?

Sebab mengkritik pemerintah dari luar itu satu perkara.

Mengkritik ketika diri sendiri sudah menjadi bagian dari pemerintah, itu perkara lain.

Di luar pagar, suara bisa lantang.

Setelah masuk pagar, jangan sampai tiba-tiba mikrofon berubah menjadi mode silent. 😄

Dulu bilang:

«“Kekuasaan harus diawasi!”»

Sekarang pertanyaannya:
Siapa yang mengawasi orang yang dulu paling rajin mengawasi kekuasaan?
Nah, di sinilah waktu mulai bekerja.
Kita tidak perlu memvonis.
Tidak perlu p**a buru-buru menyebut munafik.

Cukup lihat: apakah prinsipnya ikut duduk di kursi, atau kursinya yang akhirnya menduduki prinsipnya?

Allah mengingatkan:

«“Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”
QS. Ash-Shaff: 2

Sebab jabatan bisa mengubah alamat kantor.
Tapi seharusnya tidak mengubah arah kompas moral.

Dan kalau ternyata setelah mendapat panggung, suara yang dulu mengusik penguasa justru berubah menjadi suara yang paling rajin membela penguasa...

Ya, mungkin kita salah paham.
Mungkin selama ini bukan suaranya yang sedang melawan kekuasaan.
Mungkin dia hanya sedang menunggu giliran mendapat kursi. ☕😄
Menurut Anda, apakah seorang pengkritik kehilangan independensinya ketika menerima jabatan dari pihak yang dulu ia kritik—atau justru itu kesempatan untuk membuktikan bahwa kritiknya memang lahir dari prinsip?

21/09/2026

KETIKA MATA TERLALU SERING MELIHAT NIKMAT ORANG LAIN

Refleksi Qur’ani tentang Mendidik Hati Agar Tidak Gelisah dengan Rezeki

Ada kegelisahan yang kadang tidak lahir karena kita benar-benar kekurangan.

Kegelisahan itu muncul karena kita terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain.

Kita melihat rumahnya lebih bagus.

Kita melihat kendaraannya lebih baru.

Kita melihat usahanya lebih maju.

Kita melihat kehidupannya tampak lebih mudah.

Lalu tanpa sadar, mata mulai menghitung nikmat orang lain, sementara hati berhenti menghitung nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Di sinilah Al-Qur’an memberikan pendidikan yang sangat dalam tentang bagaimana seharusnya manusia memandang rezeki.

Bukan sekadar mengajarkan agar kita bersyukur, tetapi mendidik arah pandangan hati.

Allah berfirman:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Wahai manusia! Ingatlah nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling?”

QS. Fatir: 3»

Perhatikan bagaimana ayat ini dimulai:

“Ingatlah nikmat Allah kepadamu.”

Bukan,

“Hitunglah berapa banyak harta orang lain.”

Bukan p**a,

“Lihatlah siapa yang kehidupannya lebih baik darimu.”

Tetapi:

“Ingatlah nikmat Allah kepadamu.”

Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengembalikan pandangan manusia kepada tempat yang benar.

Sebab salah satu penyakit hati adalah ketika mata terlalu lama melihat ke luar, sampai lupa melihat ke dalam.

Kita tahu apa yang dimiliki tetangga.

Kita tahu kendaraan teman.

Kita tahu rumah saudara.

Kita tahu keberhasilan orang lain.

Tetapi terkadang kita lupa menghitung:

berapa kali Allah menyelamatkan kita dari kesulitan,

berapa banyak doa yang telah dikabulkan,

berapa banyak musibah yang tidak jadi menimpa,

berapa banyak makanan yang masih bisa kita nikmati,

berapa banyak waktu yang masih diberikan,

dan berapa banyak orang yang masih Allah izinkan hadir dalam kehidupan kita.

Allah kemudian mengajarkan sumber dari semua itu

«هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُم»

«“Adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki kepadamu?”»

Pertanyaan ini mengajak manusia kembali kepada akar persoalan:

Siapa sebenarnya yang memberi rezeki?

Kita boleh mendapatkan gaji melalui perusahaan.

Kita boleh memperoleh keuntungan melalui perdagangan.

Kita boleh mendapatkan penghasilan melalui pekerjaan.

Kita boleh menerima bantuan melalui seseorang.

Tetapi semua sebab itu tidak menghapus satu kenyataan:

Allah adalah sumber rezeki.

Manusia hanyalah salah satu jalan yang Allah gunakan.

Maka jangan sampai hati kita terlalu bergantung kepada jalan, hingga lupa kepada Zat yang membuka jalan.

Di sinilah tauhid memberikan ketenangan.

Karena ketika seseorang memahami bahwa rezeki berada dalam ketetapan Allah, ia tetap bekerja keras, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh hasil.

Ia berusaha tanpa menyembah hasil.

Ia mengejar rezeki tanpa menjadikan rezeki sebagai ukuran harga dirinya.

Ia melihat keberhasilan orang lain tanpa merasa Allah sedang mengurangi jatahnya.

---

Lalu Al-Qur’an Mengajarkan Ke Mana Pandangan Harus Diarahkan

Allah berfirman:

«وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka...”

QS. Taha: 131»

Ini bukan larangan untuk melihat keberhasilan orang lain.

Bukan p**a larangan untuk bercita-cita hidup lebih baik.

Tetapi ada peringatan terhadap pandangan yang membuat hati kehilangan ketenangan.

Sebab mata manusia memiliki kemampuan yang aneh.

Ketika melihat orang yang lebih susah, kita bisa merasa cukup.

Tetapi ketika melihat orang yang lebih kaya, kita merasa kurang.

Padahal rezeki kita tidak berubah.

Yang berubah hanya arah pandangan kita.

Kemarin kita merasa cukup.

Hari ini kita melihat kehidupan orang lain.

Tiba-tiba kita merasa miskin.

Bukan karena Allah mengambil nikmat kita.

Tetapi karena kita mulai menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur kehidupan kita sendiri.

Inilah mengapa penyakit membandingkan diri bisa begitu melelahkan.

Karena selalu ada orang yang lebih kaya.

Selalu ada rumah yang lebih besar.

Selalu ada kendaraan yang lebih mahal.

Selalu ada usaha yang lebih berhasil.

Jika kebahagiaan kita bergantung pada kemampuan untuk melampaui orang lain, maka kita telah memasuki perlombaan yang tidak akan pernah selesai.

---

Kemudian Allah Memberikan Jalan Keluar: Syukur

Allah berfirman:

«لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

QS. Ibrahim: 7»

Perhatikan hubungan ketiga ayat tersebut.

Fatir: 3 mengajarkan:

«Ingatlah nikmat Allah.»

Taha: 131 mengajarkan:

«Jangan biarkan pandanganmu terpaku pada kenikmatan orang lain.»

Ibrahim: 7 mengajarkan:

«Syukurilah nikmat yang telah diberikan.»

Seakan-akan Al-Qur’an sedang mendidik manusia melalui sebuah perjalanan:

dari melihat → mengingat → menyadari → bersyukur.

Dan ketika hati mulai bersyukur, sesuatu berubah.

Kita tidak lagi bertanya:

«“Mengapa dia mendapatkan sebanyak itu?”»

Tetapi mulai bertanya:

«“Apa yang sudah Allah berikan kepadaku, dan untuk apa Allah memberikannya?”»

Pertanyaan kedua jauh lebih menyehatkan hati.

---

Syukur Bukan Berhenti Berusaha

Namun jangan salah memahami qana'ah.

Qana'ah bukan berarti:

«“Sudahlah, hidup begini saja.”»

Bukan.

Seorang ayah tetap harus bekerja.

Seorang ibu tetap boleh berharap kehidupan keluarganya lebih baik.

Orang miskin tetap boleh berusaha menjadi berkecukupan.

Pedagang tetap boleh meningkatkan usahanya.

Orang yang memiliki cita-cita tetap boleh mengejarnya.

Tetapi ada perbedaan antara:

ingin hidup lebih baik

dan

tidak bisa merasa bahagia sebelum memiliki kehidupan seperti orang lain.

Yang pertama adalah ikhtiar.

Yang kedua bisa menjadi ketidakpuasan yang tidak pernah selesai.

Maka qana'ah bukan lawan dari ikhtiar.

Qana'ah adalah penjaga hati di tengah ikhtiar.

Tangan tetap bekerja.

Akal tetap berpikir.

Kaki tetap melangkah.

Tetapi hati berkata:

«“Apa pun hasilnya nanti, aku tidak akan melupakan bahwa Allah telah memberikan begitu banyak nikmat kepadaku.”»

---

Barangkali yang Kita Butuhkan Bukan Rezeki yang Lebih Banyak

Kadang kita berpikir:

«“Kalau penghasilan bertambah, pasti hati lebih tenang.”»

Belum tentu.

Ada orang yang penghasilannya bertambah, tetapi kebutuhannya ikut bertambah.

Rumah sudah besar, ingin lebih besar.

Kendaraan sudah bagus, ingin yang lebih bagus.

Penghasilan sudah meningkat, tetapi standar kehidupan juga meningkat.

Akhirnya angka bertambah, tetapi rasa cukup tidak pernah datang.

Maka persoalannya terkadang bukan hanya:

“Berapa banyak yang kita miliki?”

Tetapi:

“Seberapa besar kemampuan hati kita menikmati apa yang kita miliki?”

Sebab seseorang bisa memiliki banyak tetapi merasa kekurangan.

Sebaliknya, seseorang bisa hidup sederhana tetapi merasakan kelapangan.

Karena kekayaan tidak hanya berada di tangan. Ada kekayaan yang harus tumbuh di hati.

---

Mendidik Hati Dimulai dari Mendidik Pandangan

Mungkin inilah pelajaran terdalam dari ketiga ayat tersebut.

Ketika melihat keberhasilan orang lain, jangan buru-buru berkata:

«“Mengapa bukan aku?”»

Belajarlah berkata:

«“Masya Allah. Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Semoga keberkahan juga menyertai mereka.”»

Kemudian lihatlah kembali kehidupan kita.

Tanyakan:

«“Apa nikmat Allah yang selama ini terlalu biasa bagiku sampai aku lupa mensyukurinya?”»

Karena bisa jadi sesuatu yang kita anggap biasa hari ini adalah sesuatu yang sangat ingin dimiliki orang lain.

Kesehatan yang kita abaikan.

Keluarga yang kita anggap biasa.

Anak yang berlarian di rumah.

Pasangan yang masih menemani.

Pekerjaan yang mungkin belum menghasilkan banyak tetapi masih menjadi jalan rezeki.

Rumah sederhana yang masih menjadi tempat p**ang.

Dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bukankah semua itu juga rezeki?

---

Pada Akhirnya, Rezeki Adalah Ujian

Orang yang kekurangan diuji dengan kesabaran.

Orang yang berkelebihan diuji dengan syukur.

Yang memiliki sedikit diuji: apakah ia tetap percaya kepada Allah?

Yang memiliki banyak diuji: apakah ia tetap mengingat Allah?

Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa orang yang memiliki lebih banyak berarti lebih beruntung.

Dan jangan p**a menganggap diri kita lebih buruk hanya karena memiliki lebih sedikit.

Kita tidak mengetahui seluruh bentuk ujian di balik sebuah pemberian.

Yang kita tahu hanyalah:

Allah memberi.

Dan kita adalah hamba yang menerima amanah untuk mengelolanya.

Karena itu, mungkin ketenangan bukan datang ketika kita akhirnya memiliki sebanyak yang dimiliki orang lain.

Ketenangan datang ketika hati berhenti menjadikan milik orang lain sebagai ukuran nikmat kita.

Fatir: ingatlah nikmat-Nya.

Taha: jangan biarkan mata terpaku pada kenikmatan orang lain.

Ibrahim: bersyukurlah atas apa yang telah diberikan.

Lalu tetaplah berikhtiar.

Tetaplah bekerja.

Tetaplah memperbaiki kehidupan.

Tetapi jangan kehilangan kedamaian hanya karena perjalanan hidup kita tidak sama dengan perjalanan orang lain.

Sebab setiap manusia memiliki jalan rezekinya masing-masing.

Dan mungkin doa yang paling tepat bukan:

«“Ya Allah, jadikan rezekiku seperti rezeki mereka.”»

Tetapi:

«“Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau titipkan kepadaku, cukupkan hatiku dengannya, dan bimbing aku agar mampu menggunakannya di jalan yang Engkau ridhai.”»

Karena pada akhirnya,

yang kita perlukan bukan sekadar rezeki yang banyak, tetapi hati yang mampu mengenali bahwa rezeki itu datang dari Allah.

Dan ketika hati telah mengenali Sang Pemberi,

ia tidak lagi mudah gelisah hanya karena melihat pemberian-Nya kepada orang lain.

Pertanyaan untuk kita renungkan

Pernahkah kita merasa kurang bukan karena nikmat kita berkurang, tetapi karena terlalu sering melihat nikmat orang lain?

Dan menurut Anda, mana yang lebih sulit: mendapatkan rezeki yang banyak, atau mendidik hati agar merasa cukup dan tetap bersyukur atas rezeki yang Allah titipkan?

21/09/2026

JANGAN UKUR REZEKIMU DENGAN REZEKI ORANG LAIN

Suatu malam, seorang istri berkata kepada suaminya,

“Kenapa ya, kehidupan orang lain kelihatannya lebih mudah? Mereka sudah punya rumah bagus, kendaraan bagus, bisa membeli ini dan itu. Kapan kita bisa seperti mereka?”

Suaminya terdiam.

Ia tahu, istrinya bukan sedang meminta kemewahan.

Ia hanya sedang lelah melihat keadaan.

Kemudian suaminya berkata pelan,

“Sayang, mungkin yang membuat kita lelah bukan karena rezeki kita terlalu sedikit. Bisa jadi karena mata kita terlalu sering melihat rezeki orang lain.”

Istrinya terdiam.

“Coba kita pikirkan,” lanjutnya.

“Kita melihat rumah orang lain, tetapi kita tidak melihat cicilannya.

Kita melihat kendaraannya, tetapi kita tidak tahu bagaimana mereka mendapatkannya.

Kita melihat mereka makan enak, tetapi kita tidak tahu ujian yang mereka simpan.

Kita melihat hasil kehidupannya, tetapi kita tidak pernah melihat seluruh perjuangannya.”

Lalu ia berkata,

“Dan yang paling penting, kita sering membandingkan halaman kehidupan kita dengan halaman kehidupan orang lain, padahal Allah memberikan setiap manusia buku kehidupan yang berbeda.”

Allah berfirman:

«وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

“Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka...”

QS. Taha: 131»

Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk berhenti berusaha.

Bukan p**a berarti kita tidak boleh ingin hidup lebih baik.

Islam justru mengajarkan ikhtiar.

Tetapi Islam juga mengajarkan agar keinginan tidak berubah menjadi ketidakpuasan terhadap pemberian Allah.

Sebab ketika seseorang terlalu sering melihat apa yang dimiliki orang lain, ia bisa lupa menghitung apa yang sudah Allah berikan kepadanya.

Ia lupa bahwa masih ada rumah untuk p**ang.

Masih ada pasangan yang menemani.

Masih ada anak yang memanggilnya ayah atau ibu.

Masih ada tubuh yang bisa bekerja.

Masih ada makanan yang bisa dimakan.

Masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan.

Dan yang paling besar:

masih ada Allah yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Allah berfirman:

«لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

QS. Ibrahim: 7»

Maka mungkin yang perlu kita lakukan bukan berhenti bermimpi.

Tetapi berhenti membandingkan.

Tetaplah bekerja.

Tetaplah berusaha.

Tetaplah memperbaiki ekonomi keluarga.

Tetaplah memiliki cita-cita.

Tetapi jangan biarkan rumah kita kehilangan ketenangan hanya karena kita ingin terlihat seperti rumah orang lain.

Sebab rezeki bukan perlombaan siapa yang paling banyak.

Rezeki adalah amanah tentang bagaimana sesuatu yang Allah titipkan kepada kita digunakan.

Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi tidak pernah merasa cukup.

Ada p**a orang yang hidup sederhana tetapi hatinya lapang.

Karena kaya tidak selalu berarti banyak memiliki, dan miskin tidak selalu berarti sedikit memiliki.

Kadang yang membuat seseorang merasa miskin bukan karena sedikitnya nikmat, tetapi karena terlalu sering menghitung nikmat orang lain.

Maka kepada pasangan kita, kepada anak-anak kita, dan kepada diri kita sendiri, mari belajar mengatakan:

“Kita boleh ingin lebih baik, tetapi jangan sampai lupa mensyukuri apa yang sudah baik.”

Kita boleh mengejar rezeki.

Tetapi jangan mengejar dunia sampai kehilangan ketenangan.

Kita boleh melihat keberhasilan orang lain sebagai inspirasi.

Tetapi jangan menjadikannya ukuran harga diri keluarga kita.

Karena pada akhirnya,

yang harus kita kejar bukan kehidupan orang lain, melainkan keberkahan dalam kehidupan yang Allah amanahkan kepada kita.

Dan mungkin, di situlah letak qana'ah:

Bukan berhenti berusaha mendapatkan lebih,

tetapi mampu berkata,

“Ya Allah, aku akan terus berikhtiar untuk mendapatkan yang lebih baik, tetapi aku tidak akan meremehkan apa yang telah Engkau berikan hari ini.”

Lalu bagaimana dengan kita?

Pernahkah kita merasa rezeki sendiri terasa kurang hanya karena melihat kehidupan orang lain?

Atau justru setelah belajar bersyukur, kita menemukan bahwa ternyata nikmat yang selama ini kita anggap biasa adalah sesuatu yang sangat berharga?

Menurut Anda, mana yang lebih sulit: mencari rezeki atau belajar merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan?

18/09/2026

KETIKA HUKUM KEHILANGAN INTEGRITAS, KEADILAN HANYA TINGGAL NAMA.

Saya tidak sedang menuduh siapa pun.

Saya hanya sedang bertanya:

Apakah hukum benar-benar berdiri di atas kebenaran, atau terkadang kebenaran harus menyesuaikan diri dengan kekuasaan?

Sebab masyarakat sering mendengar ungkapan:

«“Hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah.”»

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi di baliknya ada persoalan yang jauh lebih serius:

kepercayaan masyarakat terhadap keadilan.

Hukum seharusnya tidak mengenal siapa yang sedang diperiksa.

Rakyat biasa maupun pejabat, orang kuat maupun orang lemah, orang yang kita sukai maupun orang yang kita benci—standar pembuktiannya harus sama.

Kalau seseorang dituduh, buktikan.

Kalau seseorang membantah, periksa.

Kalau ada bukti baru, buka ruang pemeriksaan.

Kalau bukti tidak cukup, jangan dipaksakan menjadi kebenaran.

Dan kalau ternyata kita salah, jangan gengsi untuk mengakui kesalahan.

Karena integritas penegak hukum bukan terlihat dari seberapa banyak orang yang berhasil dihukum.

Integritas justru terlihat ketika mereka mampu berkata:

“Kami akan memutus perkara berdasarkan bukti, bukan berdasarkan siapa yang berdiri di belakang perkara itu.”

Al-Qur'an mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan..."
(QS. An-Nisa: 135)

Keadilan membutuhkan keberanian.

Kejujuran membutuhkan integritas.

Dan hukum membutuhkan keduanya.

Sebab ketika hukum tidak lagi dipercaya sebagai jalan menuju kebenaran, masyarakat akan mulai bertanya:

“Kalau hukum saja bisa dipengaruhi oleh kepentingan, kepada siapa lagi kami harus mencari keadilan?”

Pertanyaan itu jauh lebih berbahaya daripada sebuah kritik.

Karena ketika rakyat kehilangan kepercayaan kepada keadilan, yang sedang runtuh bukan hanya sebuah perkara.

Yang sedang dipertaruhkan adalah wibawa hukum itu sendiri.

Lalu menurut Anda:

Apa ukuran paling sederhana bahwa sebuah proses hukum benar-benar adil—siapa yang diperiksa, atau bagaimana proses pembuktiannya dijalankan?

17/09/2026

"Ucapan Adalah Do'a"

“Jangan-jangan selama ini yang membuat kita merasa kekurangan bukan cuma isi dompet… tapi juga isi mulut kita?”

“Duit téh teu kaop aya, béak deui-béak deui…”

Begitu kalimat seorang ibu setiap kali melihat uang belanja mulai menipis.

Hari ini ada uang.

Besok berkurang.

Lalu keluar lagi kalimat yang sama:

“Aduh… pasti béak deui.”

Sampai suatu hari tetangganya berkata,

“Bu, coba ubah kalimatnya.”

“Jadi ngomong apa?”

“Duit téh teu kaop béak, aya deui-aya deui.”

Si ibu tertawa.

“Memangnya kalau ngomong begitu uang langsung muncul?”

“Bukan begitu…”

“Lalu maksudnya?”

Tetangganya menjawab:

“Ucapan itu bukan mantra. Tapi ucapan bisa menentukan bagaimana hati kita memandang keadaan.”

Kalau setiap hari kita berkata,

«“Nggak cukup.”»

«“Pasti kurang.”»

«“Nggak ada jalan.”»

Bisa jadi bukan hanya mulut yang mengatakannya.

Pikiran kita pun mulai mempercayainya.

Akhirnya kita takut mencoba.

Takut berusaha.

Takut mencari peluang.

Bahkan sebelum berjuang, kita sudah merasa kalah.

Sebaliknya, ketika kita berkata:

«“Insyaallah ada jalan. Allah masih punya banyak pintu rezeki.”»

Kita tidak sedang memanggil uang dengan kata-kata.

Kita sedang menanam harapan kepada Allah.

Lalu setelah itu?

Tetap bekerja.

Tetap berhemat.

Tetap mencari peluang.

Tetap berdoa.

Tetap bertawakal.

Karena rezeki bukan datang karena kita pandai mengucapkan kalimat positif.

Rezeki datang karena Allah yang memberi.

Ucapan hanyalah salah satu cara menjaga hati agar tidak cepat berputus asa.

Jadi mulai sekarang, kalau uang sedang menipis, jangan buru-buru berkata:

“Wah, béak deui… béak deui…”

Coba katakan:

“Insyaallah cukup. Kalau belum cukup, semoga Allah bukakan jalan rezeki yang lain.”

Bukan karena kalimat itu punya kekuatan gaib.

Tetapi karena kita sedang memilih untuk berharap kepada Allah daripada menyerah kepada keadaan.

Dan siapa tahu…

pintu rezeki yang kita cari selama ini ternyata bukan tertutup—kita saja yang belum mencoba mengetuknya.

28/08/2026
27/08/2026

Ketika Ilmu Kehilangan Amanah

Membongkar Akar Budaya Korupsi dari Perspektif Pendidikan Islam

Korupsi sering kali dibicarakan sebagai persoalan hukum, persoalan moral individu, atau kelemahan sistem pengawasan. Negara membangun lembaga antikorupsi, memperketat regulasi, memperbanyak auditor, melakukan digitalisasi birokrasi, dan menjatuhkan hukuman kepada pelaku. Semua itu penting.
Namun ada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:
Mengapa korupsi tetap tumbuh ketika tingkat pendidikan masyarakat semakin tinggi?

Bukankah pendidikan seharusnya membuat manusia semakin mampu membedakan antara yang benar dan yang salah? Bukankah semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar p**a tanggung jawab moral yang melekat pada dirinya?
Realitas justru memperlihatkan sebuah paradoks. Korupsi tidak selalu dilakukan oleh orang yang tidak memahami hukum. Tidak jarang ia melibatkan orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, memahami administrasi, menguasai prosedur, memiliki jabatan strategis, dan secara intelektual sangat mampu memahami konsekuensi dari tindakannya.
Maka persoalannya bukan semata-mata kurangnya ilmu.
Boleh jadi persoalannya adalah ilmu yang kehilangan amanah.
Ketika orang pintar justru mampu melakukan kejahatan yang lebih kompleks

Maling ayam tidak membutuhkan pengetahuan tentang mekanisme pengadaan barang dan jasa, sistem penganggaran, prosedur administrasi, rekayasa laporan keuangan, atau jaringan birokrasi.
Ia hanya membutuhkan kesempatan dan keberanian mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Korupsi dalam skala besar berbeda.
Ia dapat membutuhkan pengetahuan, jabatan, kewenangan, akses, jaringan, dan kemampuan membaca celah sistem.

Di sinilah terdapat ironi besar dalam kehidupan modern.
Semakin kompleks ilmu yang dimiliki seseorang, semakin besar p**a kemampuan yang dapat digunakannya untuk membangun kemaslahatan—tetapi semakin besar p**a kemungkinan ilmu tersebut disalahgunakan apabila tidak dibarengi integritas.

Karena itu, kita tidak cukup bertanya:
«“Mengapa seseorang melakukan korupsi?”»
Kita juga harus bertanya:
«“Pendidikan seperti apa yang membentuk manusia yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk menyalahgunakan amanah?”»
Pertanyaan ini membawa kita keluar dari sekadar persoalan hukum menuju persoalan yang jauh lebih fundamental: persoalan pendidikan dan pembentukan manusia.

Pendidikan: mencetak manusia kompeten atau manusia beradab?
Pendidikan modern telah memberikan sumbangan yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, ekonomi, hukum, teknik, komunikasi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya telah membawa manusia pada tingkat kemampuan yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Islam tidak mengharuskan manusia menolak kemajuan tersebut.
Justru ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam.
Persoalannya bukan apakah ilmu modern harus ditolak, melainkan ke mana ilmu itu diarahkan dan dalam batas apa ia digunakan.
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang apa yang dapat dilakukan, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan tentang apa yang seharusnya dilakukan.
Seorang ahli keuangan dapat mengetahui bagaimana memindahkan angka dalam sebuah laporan.
Seorang ahli hukum dapat mengetahui celah dalam sebuah peraturan.
Seorang administrator dapat mengetahui kelemahan prosedur.
Seorang teknokrat dapat mengetahui bagaimana sebuah proyek dirancang.
Tetapi pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu tidak otomatis memberikan kesadaran tentang apakah sesuatu itu benar untuk dilakukan.
Di sinilah pendidikan kehilangan sesuatu yang sangat penting apabila ilmu dipisahkan dari adab.
Ilmu memberikan kemampuan.
Adab memberikan arah.
Islam tidak memusuhi ilmu, tetapi memberikan kompas kepada ilmu
Pendidikan Islam tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap pendidikan modern.
Sebaliknya, ilmu pengetahuan modern dapat menjadi instrumen besar bagi kemaslahatan manusia ketika ditempatkan dalam kerangka nilai yang benar.
Islam memberikan prinsip-prinsip yang membatasi penggunaan ilmu dan kekuasaan: keadilan, amanah, kejujuran, larangan mengambil harta dengan cara batil, tanggung jawab sosial, dan kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dengan demikian, pendidikan tidak cukup hanya bertanya:
“Seberapa pintar manusia?”
Tetapi juga:
“Untuk apa kepintaran itu digunakan?”
Tidak cukup:
“Seberapa tinggi gelar seseorang?”
Tetapi:
“Seberapa besar ilmu tersebut membentuk tanggung jawabnya?”
Dan tidak cukup:
“Seberapa tinggi jabatan yang berhasil dicapai?”
Tetapi:
“Seberapa kuat kesadarannya bahwa jabatan tersebut adalah amanah?”

Dari ilmu menuju jabatan: ketika amanah berubah menjadi privilese

Salah satu persoalan yang perlu kita renungkan adalah cara manusia memandang jabatan.

Dalam budaya tertentu, jabatan dipandang sebagai simbol keberhasilan. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi p**a status sosial, akses, fasilitas, dan kekuasaan.

Padahal dalam perspektif Islam, meningkatnya jabatan seharusnya berarti meningkatnya amanah.
Seorang pemimpin bukan semakin bebas melakukan apa saja karena kekuasaannya semakin besar.
Sebaliknya, semakin besar kekuasaan, semakin besar p**a tanggung jawabnya.
Jabatan bukan kepemilikan.
Anggaran negara bukan milik pejabat.
Fasilitas publik bukan milik penguasa.
Kewenangan bukan hak istimewa untuk memperkaya diri.
Semuanya merupakan amanah.
Ketika kesadaran ini hilang, terjadi perubahan yang sangat berbahaya:

jabatan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi kesempatan.
Kesempatan untuk mendapatkan keuntungan.
Kesempatan untuk membangun jaringan.
Kesempatan untuk mengendalikan sumber daya.

Kesempatan untuk memberikan keuntungan kepada kelompok tertentu.
Dan akhirnya, kesempatan untuk melakukan korupsi.
Ketika korupsi berubah menjadi budaya
Korupsi menjadi jauh lebih berbahaya ketika ia tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan, tetapi mulai diterima sebagai sesuatu yang “biasa”.

“Memang begitulah sistemnya.”
“Kalau tidak ikut, kita akan tertinggal.”
“Semua orang juga melakukannya.”
“Yang penting pekerjaan selesai.”
“Ambil sedikit saja.”

Kalimat-kalimat semacam ini tampak sederhana.
Namun sesungguhnya ia menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius: normalisasi penyimpangan moral.
Ketika masyarakat mulai terbiasa dengan penyimpangan, korupsi tidak lagi berdiri sebagai kejahatan individual. Ia mulai berubah menjadi budaya.
Dan budaya jauh lebih sulit diberantas daripada seorang pelaku.
Sebab ketika seorang individu korup dihukum, sistem sosial yang membenarkan perilakunya masih tetap hidup.
Di sinilah pendidikan menghadapi ujian yang sebenarnya

Sekolah dapat mengajarkan kejujuran.
Universitas dapat mengajarkan etika profesi.
Guru dapat menjelaskan pentingnya integritas.
Buku pelajaran dapat berbicara tentang moral.

Tetapi bagaimana jika seorang anak tumbuh dan melihat bahwa dalam kehidupan nyata, orang yang pandai memanfaatkan kekuasaan justru memperoleh keuntungan?

Bagaimana jika ia melihat bahwa orang jujur dianggap naif, sementara orang yang pandai memainkan aturan dianggap cerdas?

Bagaimana jika keberhasilan seseorang terus-menerus diukur dari jabatan, kekayaan, dan status sosial, sementara integritas hanya menjadi slogan?

Di sinilah pendidikan mengalami kontradiksi.

Sekolah mengajarkan nilai, tetapi lingkungan sosial mengajarkan sebaliknya.

Anak akhirnya belajar bahwa ada dua dunia: dunia yang mengatakan apa yang seharusnya dilakukan dan dunia yang menunjukkan apa yang menguntungkan dilakukan.
Jika keadaan ini terus berlangsung, pendidikan moral akan kehilangan daya.
Pendidikan Islam menawarkan sesuatu yang lebih mendalam: pengawasan dari dalam

Hukum dibutuhkan.
Pengawasan dibutuhkan.
Audit dibutuhkan.
Lembaga pemberantasan korupsi dibutuhkan.
Sanksi dibutuhkan.
Tetapi semua itu pada dasarnya merupakan mekanisme pengawasan dari luar.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Apa yang membuat seseorang tetap jujur ketika tidak ada kamera, tidak ada auditor, tidak ada atasan, dan tidak ada manusia lain yang melihat?
Di sinilah konsep taqwa menjadi sangat penting.
Kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendirian.

Ada pertanggungjawaban yang lebih tinggi daripada pertanggungjawaban administratif.
Ada pengadilan yang tidak dapat dimanip**asi.
Ada sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang, jabatan, hubungan, atau kekuasaan.
Pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kesadaran seperti inilah yang seharusnya menjadi bagian dari pembentukan manusia.
Bukan untuk menggantikan hukum negara, tetapi untuk melengkapinya.
Hukum mengawasi dari luar. Taqwa membangun pengawasan dari dalam.

Ketika keduanya berjalan bersama, peluang untuk membangun integritas menjadi jauh lebih kuat.
Jangan hanya mendidik manusia agar mampu, tetapi juga agar mampu menahan diri
Mungkin inilah salah satu persoalan pendidikan yang paling jarang dibicarakan.
Pendidikan sering mengajarkan manusia bagaimana memperoleh sesuatu.
Bagaimana menjadi sukses.
Bagaimana memperoleh pekerjaan.
Bagaimana mendapatkan jabatan.
Bagaimana meningkatkan pendapatan.
Bagaimana menguasai teknologi.

Tetapi pendidikan juga harus mengajarkan sesuatu yang tidak kalah penting:
kapan manusia harus mengatakan “tidak”.
Tidak terhadap uang yang bukan haknya.
Tidak terhadap jabatan yang digunakan untuk kepentingan pribadi.
Tidak terhadap manip**asi.
Tidak terhadap suap.
Tidak terhadap nepotisme.
Tidak terhadap penyalahgunaan kewenangan.
Tidak terhadap keuntungan yang diperoleh dengan cara yang batil.

Sebab manusia yang terdidik bukan hanya manusia yang tahu bagaimana mendapatkan sesuatu, tetapi manusia yang memiliki kemampuan moral untuk berkata:

«“Saya mampu melakukannya, tetapi saya tidak akan melakukannya karena itu bukan hak saya.”»

Inilah salah satu bentuk tertinggi dari pendidikan.
Mengembalikan ruh pendidikan
Karena itu, pembicaraan tentang reformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada pergantian kurikulum, perubahan metode pembelajaran, digitalisasi sekolah, peningkatan kompetensi guru, atau peningkatan kualitas lulusan.

Semua itu penting.
Tetapi kita harus kembali bertanya tentang ruh pendidikan itu sendiri.

Untuk apa manusia dididik?

Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang cerdas, kita mungkin mendapatkan masyarakat yang semakin maju tetapi sekaligus semakin pandai melakukan manip**asi.

Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang terampil, kita mungkin mendapatkan birokrasi yang semakin profesional tetapi belum tentu semakin amanah.

Jika pendidikan hanya menghasilkan manusia yang mengejar kesuksesan pribadi, kita mungkin menghasilkan kompetisi yang semakin tinggi tetapi kepedulian sosial semakin rendah.

Pendidikan Islam menawarkan paradigma yang lebih utuh: manusia sebagai makhluk berilmu sekaligus makhluk moral; memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab; memiliki kemampuan sekaligus amanah.

Al-Qur'an dan Sunnah tidak perlu diposisikan sebagai penghambat perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebaliknya, keduanya dapat menjadi kompas moral yang menentukan arah perkembangan ilmu dan peradaban.

Maka pemberantasan korupsi harus dimulai jauh sebelum seseorang menjadi koruptor
Mungkin kita selama ini terlalu sibuk bertanya:

“Bagaimana menangkap koruptor?”
Pertanyaan itu memang penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih jauh:

“Bagaimana membentuk manusia agar tidak ingin menjadi koruptor ketika suatu hari ia memperoleh kesempatan?”

Perbedaannya sangat besar.
Pertanyaan pertama berurusan dengan penegakan hukum.

Pertanyaan kedua berurusan dengan pendidikan manusia.
Jika kita hanya memperkuat penjara tetapi tidak memperkuat pendidikan karakter, kita mungkin hanya akan terus menangkap pelaku baru.

Jika kita hanya memperketat prosedur tetapi manusia di dalamnya tetap memiliki orientasi materialistik, mereka akan terus mencari celah baru.
Jika kita hanya memperbesar lembaga pengawasan tetapi tidak membangun integritas, pengawas pun tetap membutuhkan pengawasan.

Karena itu, pemberantasan korupsi membutuhkan dua perjuangan sekaligus:
memperbaiki sistem dan memperbaiki manusia.

Dari manusia yang berilmu menuju manusia yang amanah
Pada akhirnya, persoalan korupsi bukan sekadar persoalan tentang uang.
Ia adalah persoalan tentang hubungan manusia dengan amanah.

Uang hanyalah salah satu bentuknya.
Jabatan adalah amanah.
Ilmu adalah amanah.
Kekuasaan adalah amanah.
Kepercayaan masyarakat adalah amanah.
Bahkan kehidupan itu sendiri adalah amanah.

Ketika pendidikan berhasil membuat manusia memahami hal ini, maka ilmu tidak lagi menjadi alat untuk mencari keuntungan semata.
Ilmu menjadi tanggung jawab.
Jabatan menjadi pengabdian.
Kekuasaan menjadi amanah.
Kekayaan menjadi sarana kemaslahatan.
Dan keberhasilan tidak lagi hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri di hadapan manusia, tetapi juga dari seberapa layak ia mempertanggungjawabkan dirinya di hadapan Allah.

Mungkin inilah akar persoalan yang perlu kita renungkan bersama.
Kita tidak kekurangan manusia pintar. Kita mungkin sedang kekurangan manusia yang mampu menundukkan kepintarannya di hadapan kebenaran.
Kita tidak kekurangan orang yang mampu mengelola kekuasaan.
Kita kekurangan manusia yang menganggap kekuasaan sebagai amanah.
Kita tidak kekurangan orang yang memahami hukum.
Kita membutuhkan manusia yang memiliki rasa takut untuk melanggar hukum meskipun memiliki kesempatan untuk lolos darinya.
Dan barangkali, di sinilah pendidikan harus menemukan kembali ruhnya:
bukan sekadar mencerdaskan manusia agar mampu menguasai dunia, tetapi mendidik manusia agar ketika dunia berada di tangannya, ia tidak kehilangan dirinya, tidak kehilangan amanahnya, dan tidak melupakan Tuhannya.
Sebab pada akhirnya, korupsi tidak selalu dimulai ketika seseorang mengambil uang yang bukan haknya.
Ia mungkin dimulai jauh sebelumnya
ketika manusia belajar bahwa keberhasilan lebih penting daripada kejujuran, kekuasaan lebih penting daripada amanah, dan kepentingan diri lebih penting daripada pertanggungjawaban kepada Allah.

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Majalengka?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address


Majalengka
45464

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Goresan Pena posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Subscribe

We will notify you when anything happens in Majalengka.